blakataktingtuttingdutngekk
++ the anthemz ++
Friday, October 20, 2006
Akibat Berbuat Baik 
Aku tinggal di salah satu kota di Canada, kira-kira sudah hampir 6tahun. Aku tinggal sendiri di salah satu gedung apartemen dekat downtown area. Kamarnya satu, ada ruang tamu, kitchen, balcon buat smoking,murah juga. Kadang teman-teman menginap, meminjam komputer, karenamilikku pentium ii, dan semua software, games etc aku punya. Jadi merekabetah nginep di sofa, atau bawa sleeping bed. Also, aku punya 50 inchTV, DVD player, Video, games dan lain-lain, jadi tempat ini siip. Akubukan orang yang berada banget,semua itu hadiah dari saudara-saudarayang ikut bahagia karena aku bisa sekolah disini. So, syukurlah.
Mungkin karena apartemen dan barang-barang electronic di rumahku, akudikagumi wanita-wanita orang putih di sini. Dikira aku loaded banget,alias rich boy. Jadi banyak yang tidak nolak kalau aku ajak jalan.Bukannya mau show-off, but aku bisa mendapatkan perempuan yang aku maukapan saja, tapi aku nggak mau perempuan yang mencintaiku karana hartakekayaanku.
Soal pacaran, aku tidak pernah punya berlangsung lama, karena aku salahgaul. Tiap-tiap wanita yang aku pacarin, semuanya mata duitan. Kalautidak dibeliin barang ini, atau itu, marah deh, terus mau putus. Jadisudah kira-kira 2 tahun aku tidak ada gandengan.Terus satu hari, aku menang lotre $300. Aku pergi ngambil duitnya darisalah satu gedung lotre tersebut dan jalan menuju pulang. Waktu itu lagiagak dingin, salju lagi turun sedikit-sedikit. Terus, waktu lagi jalan,tiba-tiba ada suara "Excuse me, spare some change?" Aku lihat ke arahkiri, ada dua gadis lagi duduk di lantai depan Starbucks Cafe sambiltangannya di ulurkan ke arahku. Yang satu lagi hanya duduk merangkulkakinya.
"Duh kasihan banget" pikirku. Aku berhenti, meraba kantong celanaku, danaku keluarkan 2 helai $5."Ini, silakan", aku bilang."Terima kasih Mas," kata gadis yang memegang uang."Terima kasih kembali" kataku lagi, sambil jalan pergi. Memang benar,setelah aku memberi uang tersebut, ada rasa yang hangat dalam hati.Sesampai di apartemen, aku cari sleeping bag bekas dan beberapa bajutebel. Tapi saya lupa kalau semuanya sudah kusumbang ke Salvation Armybeberapa minggu yang lalu. Terus aku pikir, hmm, sudah mau natalan,teman-teman pada pulang ke Indonesia, aku nggak ada teman main...,gimana kalau aku undang saja tu cewek.
Lalu aku pergi ke tempat kedua gadis itu. Tapi mereka sudah nggak adalagi. Aku lihat kiri dan kanan dan ternyata kedua gadis itu ada di depanMcDonald's, sambil megang kantong buat memesan makanan. Aku tunggumereka di deket Starbucks Cafe, dan sewaktu mereka melihatku lagi, sigadis yang aku kasih uang tadi senyum padaku dan bilang "Hi, lagingapain Mas?, Traktir kita dong?" sambil tertawa.Aku senyum saja "Oke, Nich beli aja". Si cewek yang aku kasih duitnya,namanya Lily dan cewek yang satunya lagi ternyata adiknya, bernamaLianne. Lily berumur 17 dan Lianne berumur 14. Mereka datang dari kotalain dengan cara hitchhike. Aku jongkok dengan mereka, ngobrol-ngobrolsebentar, sambil nebeng makan kentang gorengnya yang di tawari Lianne.
Kurang lebih setengah jam kemudian, entah kemasukan apa, aku ajak merekake apartemenku untuk menginap. Mereka kaget. Pertamanya sih pada nggakmau, tapi abis aku yakinkan, bahwa aku tinggal sendirian, tidak adateman dan bla bla bla, mereka akhirnya mau juga.
Sesampai di apartemenku, mereka ber wah.., wah.., wah. Aku dimintaihanduk buat mandi. Ternyata mereka nggak pakai baju tebal-tebal banget.Si Lily cuma memakai t-shirt Marilyn Manson, sweater gap yang kotor danjaket kulit, dan Lianne memakai lebih tebal, mungkin karena diberi samaLily.
Dua-duanya memang cakep sih, kulitnya putih banget (habis orang putihsih), nggak tinggi banget, kira-kira 160 cm. Lily berambut pirang kotor(dirty-blonde) sebahu, dan Lianne berambut pirang terang, seleher lebihdikit, agak berombak. Aku beri 2 pasang t-shirtku dan beberapa celanapendek milik bekas pacarku. Mereka masuk ke kamar mandi bersama dan danaku cuek-cuek saja, habis adik-kakak. Aku siapkan hot chocolate dancookies.
Sehabis mereka keluar dari kamar mandi, waduh, cantiknya mereka berduaminus make-up tebal, ikat rambut, dan garis-garis hitam di muka. Sepertimimpi degh. Belum pernah aku melihat kecantikan semacam itu. Mungkin dimajalah, dan film, tapi mereka ada didepanku. Lily memakai t-shirtGAP-ku yang berwarna putih, tanpa bra, karna aku bisa melihat putingnyayang pink dengan jelas. Lianne memakai t-shirt Planet Hollywoodku yangberwarna putih juga dan without bra.
Setelah itu kita ngobrol-ngobrol sambil minum hot choco. Lianne orangnyapendiam, tapi senyum terus. Kalau Lily agak energetic dan bawel. Sewaktukita ngobrol-ngobrol, si Lianne berdiri dan berjalan menuju kulkas."Mau Minum Champagne?" tanyanya."Boleh", kataku, "Tapi.., kamu kan masih anak-anak" kataku sambiltertawa karena aku pikir si Lianne cuma bercanda.
Dia buka botol champagne tersebut dan meminumnya sedikit, lalu dia bawabuat kakaknya, Lily. "Gile, dikirain becanda" pikirku.
Beberapa jam kemudian, ruang tamuku berasa agak panas, soalnya heaternyarusak. Aku meminta izin untuk tidur, tapi dipaksa temenin ngobrol. Akusuruh nonton TV saja, tapi mereka tidak mau. Kelihatannya sihdua-duanyajuga sudah agak mabuk, soalnya pipi mereka merah banget, danngomongnya sedikit ngacau.
Terus aku suruh mereka tidur di kamarku yang queen-sized bed, dan akutidur di sofa. Mereka menarikku untuk tidur dengan mereka. Waduh,rezeki, pikirku.
Aku ikut saja, tiba-tiba mabuk dan puyengku hilang! hehehehe, mungkinkarena pikiran kotor dan feeling bahwa aku akan score dengan mereka berdua.
Kita tiduran di ranjangku, terus aku memeluk Lily karena dia lebih deketdengan tanganku. Aku menciumnya dan dibalas juga ciumanku. Tangankubekerja dari rambutnya, leher, sampai payudaranya yang lumayan besarbuat anak 17 tahun. Kulepas T-shirtnya dengan cepat karna sudah napsubanget Lama tidak dapat!
Kusedot-sedot dengan kencang puting susunya, dan Lily merintih rintihAku melirik ke arah Lianne, ternyata dia berbaring sambil nontonin kita.Aku cuek saja dan nerusin plorotin celana dan celana dalam Lily. Bulukemaluannyamasih jarang-jarang dan berwarna pirang juga. Hmm..,lezat..., sudah lama nggak dapat nih, pikirku sambil memainkan lidahkudi liang kenikmatannya yang sudah merah. Kumainkan lidahku diclitorisnya dengan cepat, dan lily merintih rintih. Rintihannya semakinmembuatku buas. Aku keluarkan teknik cunnilingus yang diajari temanjepangku, "teknik meminum air". Lily meraung raung seperti orangkesetanan, tangannya menjambak rambutku dan pinggangnya naik turun.Setelah dia beberapa kali orgasme, aku cium seluruh tubuhnya sampaibibirnya. Terus dia berkata "do my sister"
Aku melihat ke arah Lianne dan dia sudah telanjang dan bermain denganklitorisnya. Aku cium dan sedot payudaranya yang masih belum matang(maklum 14 tahun), dengan putingnya yang pink. Lianne menggigit bibirbawahnya, menahan rasa ekstasi. Pelan-pelan kucium seluruh tubuhnyasampai ke arah liang kewanitaannya. Wah, merah dan rapet banget! rezekibesar. Kumainkan lidahku di liang kewanitaannya, bermain di clitorisnya.Lianne merintih-rintih. Aku keluarkan tehnik meminum airku sampai lianneorgasme dua kali juga.
Kemudian aku berbaring dan kakak-adik itu menciumi seluruh tubuhku.Aduh, aku merasa duniaku akan hancur, saking enaknya. Sampai merekalepas celana boxerku dan bermain dengan penis dan bolaku. penisku nggakbesar-besar banget sih, normal buat orang bule! he.., he.., he.., he..,kira-kira 7 inchi, tebal dan berurat. Mereka berdua berebut penisku, danakhirnya aku menarik Lianne buat duduk di mukaku. Lianne membuka kakinyadimukaku dan aku bagai disurga! setelah Lianne orgasme lagi, akutidurkan dia di sampingku, dan aku suruh Lily untuk naik menunggangiku.Dengan pelan-pelan, Lily naik memasukkan penisku ke liang kenikmatannyadengan susah.
Setelah kusuruh dia membasahi penisku dengan ludahnya, akhirnya amblasjuga penisku. Setelah masuk penisku semuanya, pelan-pelan aku naik turundan bergerak memutar, sambil memijat-mijat payudara Lily yang tegak dankenyal. Aku pelukLily sambil menghunjam penisku dengan cepat. Lilyberteriak teriak keenakan sambil cursing. Kusuruh dia berbalik,punggungnya menghadap dadaku. My favorite position. Aku naik turundengan cepat juga sambil aku menyuruh Lily untuk menggoyangkanpinggulnya sambil memijit-mijit payudaranya. Entah berapa kali akumerasakan sesuatu yang hangat di penisku dan Lily berteriak, "Aahh...fuck... shit!
Saya rasa dia orgasme sampai 3 kali! Aku jilat cairan kewanitaannyasampai bersih, terus pindah ke Lianne. Aku jilat dan basahi lagi liangkewanitaannya yang masih merah dan berdenyut-denyut. Aku coba untukmemasukkan penisku tapi liang senggama Lianne masih kecil banget. Akunaik ke mulut Lianne dan menyuruh buat mengisap dan membasahi penisku.Dengan mata tertutup setengah sadar, dia melakukannya. Setelah cukupbasah, aku coba lagi. Sempit banget! tapi senti demi senti masuksemuanya juga Lianne meraung-raung kesakitan. Aku goyang pelan-pelan,sambil menyedot puting susunya yang masih pink dan muda banget,missionary style.
Terus aku menyuruhnya berbalik, doggie style, tanpa melepas penisku dariliang kewanitaannya. Aku dorong-dorong, memutar, naik turun sepertirodeo, sambil memeluk tubuh Lianne yang meronta-ronta seperti ikankehabisan air aku cium rambutnya, menggigit gigit pelan bahunya danmemainkan jari-jariku di kelentitnya.
Sekitar 20 menit kemudian, setelah beberapa gaya dan setelah Lianneorgasme untuk ke entah berapa kalinya, aku keluar juga. Aku tidurimereka berdua side by side dan memuncratkan spermaku ke muka mereka.
Sehabis itu kita tidur, tapi aku belum puas juga dengan Lianne yangliang kenikmatannya sangat rapat. Dengan posisi 69 aku bermain denganliang surganya, entah sampai berapa lama.
Besoknya, di meja makan, kita ketawa-tawa dan bercanda-canda. Tapimalamnya, mereka bercerita apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.Ternyata mereka di perkosa oleh pacar ibu mereka, dan mereka lari darirumah. Selama 5 hari penuh berpesta seks, aku akhirnya menyuruh merekauntuk telepon pulang. Setelah lama aku bujuk, akhirnya mereka teleponpulang. Ibu mereka khawatir sekali dan ingin mereka pulang segera. Pacaribunya sudah di tangkap oleh yang berwenang.
Aku beri $100 buat Lily dan Lianne, untuk uang saku dan ongkos naik bus.Setelah itu, aku antar ke Bus Station, dan mereka said bye-bye denganciuman mesra di pipi kiri dan kanan.

# posted by corex @ 1:59 PM
Aku Dipertaruhkan Judi Suamiku 
Rita (34) nyaris putus asa dalam menjalani hidup ini. Suaminya, Aryo, justru menjadikannya sebagai seorang pelacur. Aku tak pernah menyangka jika Mas Aryo tega menjual tubuhku. Ketika pertama kali aku mengenalnya, dia adalah laki-laki yang baik dan selalu menjagaku dari berbagai godaan laki-laki lain. Kami menikah lima tahun yang lalu dan dikarunai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan kami beri nama Rizal. Perkawinan kami mulus-mulus saja sampai Rizal muncul diantara kami. Tentu saja waktuku banyak tersita untuk mendidik Rizal.

Mas Aryo berkerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang produksi kayu, sedangkan aku hanya tinggal di rumah. Tetapi aku tidak pernah mengeluh. Aku tetap sabar menjalankan tugasku sebagai ibu rumah tangga sebaik-baiknya. Sebenarnya setiap hari bisa saja Mas Aryo pulang sore hari. Tetapi belakangan ini dia selalu pulang terlambat. Bahkan sampai larut malam.

Pernah ketika kutanyakan, kemana saja kalau pulang terlambat. Dia hanya menjawab "Aku mencari penghasilan tambahan Rit", jawabnya singkat. Mas Aryo makin sering pulang larut malam, bahkan pernah satu kali dia pulang dengan mulut berbau alkohol, jalannya agak sempoyongan, rupanya dia mabuk. Aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan suamiku mulai gemar minum-minum arak. Selama ini aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Kadang-kadang ia memberikan uang belanja lebih padaku. Atau pulang dengan membawa oleh-oleh untuk aku dan Rizal anak kami.

Setiap kali aku menyinggung aktivitasnya, Mas Aryo berusaha menghindari.

"Kita jalankan saja peran masing-masing. Aku cari uang dan kamu yang mengurus rumah. Aku tidak pernah menanyakan pekerjaanmu, jadi lebih baik kamu juga begitu", katanya.

Aku baru bisa menerka-nerka apa aktivitasnya ketika suatu malam, dia memintaku untuk menjual gelang yang kupakai. Ia mengaku kalah bermain judi dengan seseorang dan perlu uang untuk menutupi utang atas kekalahannya, jadi itu yang dilakukannya selama ini. Sebagai seorang istri yang berusaha berbakti kepada suami, aku memberikan gelang itu. Toh dia juga yang membelikan gelang itu. Aku memang diajarkan untuk menemani suami dalam suka maupun duka.

Suatu sore saat Mas Aryo belum pulang, seorang temannya yang mengaku bernama Bondan berkunjung ke rumah. Kedatangan Bondan inilah yang memicu perubahan dalam rumah tanggaku. Bondan datang untuk menagih utang-utang suamiku kepadanya. Jumlahnya sekitar sepuluh juta rupiah. Mas Aryo berjanji untuk melunasi utangnya itu. Aku berkata terus-terang bahwa aku tidak tahu-menahu mengenai utang itu, kemudian aku menyuruhnya untuk kembali besok saja. Tetapi dengan pandangan nakal dia tersenyum,
"Lebih baik saya menunggu saja Mbak, itung-itung menemani Mbak."
Aku agak risih mendengar ucapannya itu, lebih-lebih ketika melihat tatapan liar matanya yang seakan-akan ingin menelanjangi diriku.

"Aryo tidak pernah cerita kepada saya, kalau ia memiliki istri yang begitu cantiknya. Menurut saya, sayang sekali bunga yang indah hanya dipajang di rumah saja" ucap Bondan.

Aku makin tidak enak hati mendengar ucapan rayuan-rayuan gombalnya itu, Tetapi aku mencoba menahan diri, karena Mas Aryo berutang uang kepadanya. Dalam hati aku berdoa agar Mas Aryo cepat pulang ke rumah, sehingga aku tidak perlu berlama-lama mengenalnya.

Untung saja tak lama kemudian Mas Aryo pulang. Kalau tidak pasti aku sudah muntah mendengar kata-katanya itu. Begitu melihat Bondan, Mas Aryo tampak lemas. Dia tahu pasti Bondan akan menagih hutang-hutangnya itu. Aku meninggalkan mereka di ruang tamu, Mas Aryo kulihat menyerahkan amplop coklat. Mungkin Mas Aryo sudah bisa melunasi hutangnya. Aku tidak dapat mendengar pembicaraannya, namun kulihat Mas Aryo menunduk dan sesekali terlihat berusaha menyabarkan temannya itu.

Setelah Bondan pulang, Mas Aryo memintaku menyiapkan makan malam. Dia menikmati sajian makan malam tanpa banyak bicara, Aku juga menanyakan apa saja yang dibicarakannya dengan Bondan. Aku menyadari Mas Aryo sedang suntuk, jadi lebih baik aku menahan diri. Setelah selesai makan, Mas Aryo langsung mandi dan masuk ke kamar tidur, aku menyusul masuk kamar satu jam kemudian setelah berhasil menidurkan Rizal di kamarnya.

Ketika aku memasuki kamar tidur dan menemaninya di ranjang, Mas Aryo kemudian memelukku dan menciumku. Aku tahu dia akan meminta 'jatahnya' malam ini. Malam ini dia lain sekali sentuhannya lembut. Pelan-pelan Mas Aryo mulai melepaskan daster putih yang kukenakan, setelah mencumbuiku sebentar, Mas Aryo mulai membuka bra tipis yang kukenakan dan melepaskan celana dalamku.

Setelah itu Mas Aryo sedikit demi sedikit mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuhku, tidak ada yang terlewati. Kemudian aku membantu Mas Aryo untuk melapaskan seluruh pakaian yang dikenakannya, sampai akhirnya aku bisa melihat penis Mas Aryo yang sudah mulai agak menegang, tetapi belum sempurna tegangnya.

Dengan penuh kasih sayang kuraih batang kenikmatan Mas Aryo, kumain-mainkan sebentar dengan kedua belah tanganku, kemudian aku mulai mengulum batang penis suamiku dengan lembutnya. Terasa di dalam mulutku, batang penis Mas Aryo terutama kepala penisnya, mulai terasa hangat dan mengeras. Aku menyedot batang Mas Aryo dengan semampuku, kulihat Mas Aryo begitu bergairah, sesekali matanya terpejam menahan nikmat yang kuberikan kepadanya.

Mas Aryo kemudian membalas, dengan meremas-remas kedua payudaraku yang cukup menantang, 36B. Aku mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan mulai bergerak dari puting payudaraku dan mulai menjalar keseluruh bagian tubuhku lainnya, terutama ke vaginaku. Aku merasakan liang vaginaku mulai terasa basah dan agak gatal, sehingga aku mulai merapatkan kedua belah pahaku dan menggesek-gesekan kedua belah pahaku dengan rapatnya, agar aku dapat mengurangi rasa gatal yang kurasakan di belahan liang vaginaku.

Mas Aryo rupanya tanggap melihat perubahanku, kemudian dengan lidahnya Mas Aryo mulai turun dan mulai mengulum daging kecil clitorisku dengan nafsunya, Aku sangat kewalahan menerima serangannya ini, badanku terasa bergetar menahan nikmat, peluh ditubuhku mulai mengucur dengan deras diiringi erangan-erangan kecil dan napas tertahan ketika kurasakan aku hampir tak mampu menahan kenikmatan yang kurasakan.

Akhirnya seluruh rasa nikmat semakin memuncak, saat penis Mas Aryo, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalam vaginaku, rasa gatal yang kurasakan sejak tadi berubah menjadi nikmat saat penis Mas Aryo yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak maju mundur, seakan-akan menggaruk-garuk gatal yang kurasakan.

Suamiku memang jago dalam permainan ini. Tidak lebih dari lima belas menit aku berteriak kecil saat aku sudah tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang kurasakan, tubuhku meregang sekian detik dan akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak-puncak kenikamatan kuraih pada saat itu, mataku terpejam sambil menggigit kecil bibirku saat kurasakan vaginaku mengeluarkan denyut-denyut kenikmatannya.

Dan tidak lama kemudian Mas Aryo mencapai puncaknya juga, dia dengan cepatnya menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tersembur dengan derasnya ke arah tubuh dan wajahku, aku membantunya dengan mengocok penisnya sampai air maninya habis, dan kemudian aku mengulum kembali penisnya sekian lama, sampai akhirnya perlahan-lahan mulai mengurang tegangannya dan mulai lunglai.

"Aku benar-benar puas Rit, kamu memang hebat", pujinya. Aku masih bergelayut manja di dekapan tubuhnya.
"Rit, kamu memang istriku yang baik, kamu harus bisa mengerti kesulitanku saat ini, dan aku mau kamu membantu aku untuk mengatasinya", katanya.
"Bukankah selama ini aku sudah begitu Mas", sahutku. Mas Aryo mengangguk-angguk mendengarkan ucapanku.
Kemudian ia melanjutkan, "Kamu tahu maksud kedatangan Bondan tadi sore. Dia menagih utang, dan aku hanya sanggup membayar setengah dari keseluruhan utangku. Kemudian setelah lama berbicang-bincang ia menawarkan sebuah jalan keluar kepadaku untuk melunasi hutang-hutangku dengan sebuah syarat", ucap Mas Aryo.
"Apa syaratnya, Mas?" tanyaku penasaran.
"Rupanya dia menyukaimu, dia minta izinku agar kamu bisa menemani dia semalam saja", ucap Mas Aryo dengan pelan dan tertahan.

Aku bagai disambar petir saat itu, aku tahu arti 'menemani' selama semalam. Itu berarti aku harus melayaninya semalam di ranjang seperti yang kulakukan pada Mas Aryo. Mas Aryo mengerti keterkejutanku.
"Aku sudah tidak tahu lagi dengan apalagi aku harus membayar hutang-hutangku, dia sudah mengancam akan menagih lewat tukang-tukang pukulnya jika aku tidak bisa membayarnya sampai akhir pekan ini", katanya lirih.

Aku hanya terdiam tak mampu mengomentari perkataannya itu. Aku masih shock memikirkan aku harus rela memberikan seluruh tubuhku kepada lelaki yang belum kukenal selama ini. Sikap diamku ini diartikan lain oleh Mas Aryo. "Besok kamu ikut aku menemui Bondan", ujarnya lagi, sambil mencium keningku lalu berangkat tidur. Seketika itu juga aku membenci suamiku. Aku enggan mengikuti keinginan suamiku ini, namun aku juga harus memikirkan keselatan keluarga, terutama keselamatan suamiku. Mungkin setelah ini ia akan kapok berjudi lagi pikirku.

Sore hari setelah pulang kerja, Mas Aryo menyuruhku berhias diri dan setelah itu kami berangkat menuju tempat yang dijanjikan sebelumnya, rupanya Mas Aryo mengantarku ke sebuah hotel berbintang. Ketika itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.00 malam. Selama hidup baru pertama kali ini, aku pergi untuk menginap di hotel.

Ketika pintu kamar di ketuk oleh Mas Aryo, beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, dan kulihat Bondan menyambut kami dengan hangatnya, Suamiku tidak berlama-lama, kemudian ia menyerahkan diriku kepada Bondan, dan kemudian berpamitan.

Dengan lembut Bondan menarik tanganku memasuki ruangan kamarnya. Aku tertunduk malu dan wajahku terasa memerah saat aku merasakan tanganku dijamah oleh seseorang yang bukan suamiku. Ternyata Bondan tidak seburuk yang kubayangkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh tubuhku, tetapi sikapnya dan perlakuannya kepadaku tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yang menyerangku mulai memudar.

Bondan menanyakan dengan lembut, aku ingin minum apa. Kusahut aku ingin minum coca-cola, tetapi jawabnya minuman itu tidak ada sekarang ini di kamarnya, kemudian dia mengeluarkan sebotol sampagne dari kulkas dan menuangkannya sedikit sekitar setengah sloki, kemudian disuguhkannya kepadaku, "Ini bisa menghilangkan sedikit rasa gugup yang kamu rasakan sekarang ini, dan bisa juga membuat tubuhmu sedikit hangat. Kulihat dari tadi kelihatannya kamu agak kedinginan", ucapnya lagi sambil menyodorkan minuman tersebut.

Kuraih minuman tersebut, dan mulai kuminum secara dikit demi sedikit sampai habis, memang benar beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh dan pikiranku agak tenang, rasa gorgi sudah mulai menghilang, dan aku juga merasakan ada aliran hangat yang mengaliri seluruh syaraf-syaraf tubuhku.

Bondan kemudian menyetel lagu-lagu lembut di kamarnya, dan mengajakku berbincang-bincang hal-hal yang ringan. Sekitar 10 menit kami berbicara, aku mulai merasakan agak pening di kepalaku, tubuhkupun limbung. Kemudian Bondan merebahkan tubuhku ke ranjang. Beberapa menit aku rebahan di atas ranjang membuatku mulai bisa menghilangkan rasa pening di kepalaku.

Tetapi aku mulai merasakan ada perasaan lain yang mengalir pada diriku, ada perasaan denyut-denyut kecil di seluruh tubuhku, semakin lama denyut-denyut tersebut mulai terasa menguat, terutama di bagian-bagian sensitifku. Aku merasakan tubuhku mulai terangsang, meskipun Bondan belum menjamah tubuhku.

Ketika aku mulai tak kuasa lagi menahan rangsangan di tubuhku, napasku mulai memburu terengah-engah, payudaraku seakan-akan mengeras dan benar-benar peka, vaginaku mulai terasa basah dan gatal yang menyengat, perlahan-lahan aku mulai menggesek-gesekkan kedua belah pahaku untuk mengurangi rasa gatal dan merangsang di dalam vaginaku. Tubuhku mulai menggeliat-geliat tak tahan merasakan rangsangan seluruh tubuhku.

Bondan rupanya menikmati tontonan ini, dia memandangi kecantikan wajahku yang kini sedang terengah-engah bertarung melawan rangsangan, nafsunya mulai memanas, tangannya mulai meraba tubuhku tanpa bisa kuhalangi lagi. Remasan-remasan tangannya di payudaraku membuatku tidak tahan lagi, sampai tak sadar aku melorotkan sendiri pakaian yang kukenakan. Saat pakaian yang kukenakan lepas, Mata Bondan tak lepas memandangi belahan payudaraku yang putih montok dan yang menyembul dan seakan ingin loncat keluar dari bra yang kukenakan.

Tak tahan melihat pemandangan indah ini, Bondan kemudian menggumuliku dengan panasnya sembari tangannya mengarah ke belakang punggungku, tidak lebih dari 3 detik, kancing bra-ku telah lepas, kini payudaraku yang kencang dan padat telah membentang dengan indahnya, Bondan tak mau berlama-lama memandangiku, dengan buasnya lagi ia mencumbuiku, menggumuliku, dan tangannya semakin cepat meremas-remas payudaraku, cairan vaginaku mulai membasahi celana putihku.

Melihat ini, tangan bondan yang sebelahnya lagi mulai bermain-main di celanaku tepat di cairan yang membasahi celanaku, aku merasakan nikmat yang benar-benar luar biasa. Napasku benar-benar memburu, mataku terpejam nikmat saat tangan Bondan mulai memasuki celana dalamku dan memainkan daging kecil yang tersembunyi di kedua belahan rapatnya vaginaku.

Bondan memainkan vaginaku dengan ahlinya, membuatku terpaksa merapatkan kedua belah pahaku untuk agak menetralisir serangan-serangannya, jari-jarinya yang nakal mulai menerobos masuk ke liang tubuhku dan mulai memutar-mutar jarinya di dalam vaginaku. Tak puas karena celana dalamku agak mengganggu, dengan cepatnya sekali gerakan dia melepaskan celana dalamku. Aku kini benar-benar bugil tanpa tersisa pakaian di tubuhku.

Bondan tertegun sejenak memandangi pesona tubuhku, yang masih bergeliat-geliat melawan rangsangan yang mungkin diakibatkan obat perangsang yang disuguhkan di dalam minumanku. Dengan cepatnya selagi aku masih merangsang sendiri payudaraku, Bondan melepaskan dengan cepat seluruh pakaian yang dikenakan sampai akhirnya bugil pula. Aku semakin bernafsu melihat batang penis Bondan telah berdiri tegak dengan kerasnya, Besar dan panjang.

Dengan cepat Bondan kembali menggumuliku dengan benar-benar sama-sama dalam puncak terangsang, aku merasakan payudaraku diserang dengan remasan-remasan panas, dan.., ahh.., akupun merasakan batang penis Bondan dengan cepatnya menyeruak menembus liang vaginaku dan menyentuh titik-titik kenikmatan yang ada di dalam liang vaginaku, aku menjerit-jerit tertahan dan membalas serangan penisnya dengan menjepitkan kedua belah kakiku ke arah punggungnya sehingga penisnya bisa menerobos secara maksimal ke dalam vaginaku.

Kami bercumbu dengan panasnya, bergumul, setiap kali penis Bondan mulai bergerak masuk menerobos masuk ataupun saat menarik ke arah luar, aku menjepitkan otot-otot vaginaku seperti hendak menahan pipis, saat itu aku merasakan nikmat yang kurasakan berlipat-lipat kali nikmatnya, begitu juga dengan Bondan, dia mulai keteteran menahan kenikmatan tak bisa dihindarinya. Sampai pada satu titik saya sudah terlihat akan orgasme, Bondan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan hentakan2 penisnya yang dipercerpat.. akhirnya kekuatan pertahananku ambrol.. saya orgasme berulang-ulang dalam waktu 10 detik.. Bondan rupanya juga sudah tidak mampu menahan lagi serangannya dia hanya diam sejenak untuk merasakan kenikmatan dipuncak-puncak orgasmenya dan beberapa detik kemudian mencabut batang penisnya dan tersemburlan muncratan-muncratan spermanya dengan banyaknya membanjiri wajah dan sebagian berlelehan di belahan payudaraku. Kamipun akhirnya tidur kelelahan setelah bergumul
dalam panasnya birahi.

Keesokan paginya, Bondan mengantarku pulang ke rumah. Kulihat suamiku menerimaku dengan muka tertuduk dan berbicara sebentar sementara aku masuk ke kamar anakku untuk melihatnya setelah seharian tidak kuurus.

Setelah kejadian itu, aku dan suamiku sempat tidak berbicara satu sama-lain, sampai akhirnya aku luluh juga saat suamiku minta maaf atas kelakuannya yang menyebabkan masalah ini sampai terjadi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, suamiku kembali terjebak dalam permainan judi. Sehingga secara tidak langsung akulah yang menjadi taruhan di meja judi. Jika menang suamiku akan memberikan oleh-oleh yang banyak kepada kami. Tetapi jika kalah aku harus rela melayani teman-teman suamiku yang menang judi. Sampai saat ini kejadian ini tetap masih berulang. Oh sampai kapankah penderitaan ini akan berakhir.

# posted by corex @ 1:39 PM
Akibat Buah Terlarang 
Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumahBTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang.
Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik,seksi dan selalu menggairahkan. Dari perkawinan kami kini telah terlahirseorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan seorang anak cantikberusia tiga tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punyakedudukan dan jabatan yang lumayan. Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semuaini bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidakmenyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.
Awalnya aku cuma iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untukmencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-lakihidung belang.
Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seoranggadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, kulitnyakuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapanbelas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Akuhanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, danmendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.
Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau akusejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, danlangsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkantangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengankeberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.
"Sendirian aja nih..., Omm..", sapanya dengan senyuman menggoda.
"Eh, iya..", sahutku agak tergagap.
"Perlu teman nggak..?" dia langsung menawarkan diri.
Aku tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidaktahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga akutidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun barubeberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan diasudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaokeini dan bertemu dengannya.
Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang diamengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.
Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulangsampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyakbertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masihterus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatkujadi seperti kembali ke masa remaja.
Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu jugadatang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi.Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benarlupa pada anak dan istri di rumah. Aku bersenang-senang dengan gadisyang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.
Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Akujadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang,selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entahbenar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak sepertibiasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurutsaja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijangkreditan yang belum lunas.
Entah kenapa, tiba-tiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini kesebuah penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Renitidak menolak ketika aku mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan diajuga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yangtelah kupesan.
Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya.Bahkan wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yangmembangkitkan gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintihtertahan. Aku tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairahasmara yang membara.
Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu akumelucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekaliyang melekat di tubuh Reni yang padat berisi. Reni mendesis dan merintihpelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain danmenggelitik puting payudaranya. Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebatsaat ujung jariku mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dansensitif. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran daerah rawan itu. Tapiitu sudah cukup membuat Reni menggelinjang dan semakin bergairah.
Tergesa-gesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, danmenuntun tangan gadis itu ke arah batang penisku. Entah kenapa,tiba-tiba Reni menatap wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggambatang penis kebanggaanku ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggampenisku dan kemudian melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yangindah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.
"Jangan, Omm...", desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membukakembali lipatan pahanya.
"Kenapa?" tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.
"Aku..., hmm, aku..." Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malahmenggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besarmenguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisalagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demisedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak,dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulusitu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vaginagadis muda ini yang mulai tampak merekah.
Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras,panas dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yangmulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang peniskujadi sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilanganakal. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisaleluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekanpinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.
Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit,aku langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang peniskumelesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu jugaReni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruhurat-urat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsungbercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak kaget,aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di dalamvagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku, saataku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya bahwamalam ini aku juga mengambil keperawanan dari gadis yang begitu akusukai ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masihperawan.
Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapatcairan kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benar-benar terkejutsaat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Reni tidak pernahmengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasaterkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begituberkobar-kobar.
Aku mulai menggerak-gerakan tubuhku, agar penisku dapat bermain-main didalam lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, SementaraReni sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnyadia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan majumundur penisku seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.
Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsurpaksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Danaku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikankeperawanannya. Aku memandangi bercak-bercak darah yang mengotori spreisambil memeluk tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengarisak tangisnya.
"Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnyakamu bilang sejak semula...", kataku mencoba menghibur.
Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun daripembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudahterdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi.Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepalapembaringan.
Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilithanduk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagaiperasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggutkegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni dudukdisisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.
Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus.Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanyakembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handukyang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitumenggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencangdan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi disekitar vaginanya.
Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupanyang membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolakgairahnya yang mendadak saja terusik kembali.
"Pelan-pelan, Omm. Perih...", rintih Reni tertahan, saat aku mulaikembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya. Rennymenyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnyasendiri, saat aku sudah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan iramayang tetap dan teratur.
Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementaragerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapakali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagaitersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncakorgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsunglunglai di pembaringan, dan aku merasakan denyutan-denyutan lembut daridalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyut-denyut vagina Reni,membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini..hingga akhirnya aku merasakan kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatanluar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liangvagina Renny. Akupun akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukandengan Reni malam itu.

# posted by corex @ 1:31 PM
Saturday, October 14, 2006
*kuperkosa kakak iparku* 
Kejadian ini berlangsung kira-kira 2 tahun yang lalu, waktu itu akudiminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak iparperempuanku sekalian menengok dia karena sudah lama tidak ketemu. Kakakiparku ini (sebut saja namanya Ina) memang tinggal sendirian, walaupunsudah kawin tetapi belum punya anak dan saat ini sudah pisah ranjangdengan suaminya yang kerja di kota lain. Aku sampai di rumahnya sekitarjam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci. Taklama kemudian Ina muncul dari dalam dan sudah tahu bahwa aku akan datangmalam ini."Ayo Yan, masuk.., langsung dari kantor?, Sorry pintunya sudah digembok,soalnya Ina tinggal sendiri jadi harus hati-hati", Sambutnya.Ina malam itu sudah memakai daster tidur karena toh yang bakalan datangjuga masih terhitung adiknya, daster yang dia pakai mempunyai potonganleher yang lebar dengan model tangan 'you can see'.
Kami kemudian ngobrol dan nonton TV sambil duduk bersebelahan di sofaruang tengah. Selama ngobrol, Ina sering bolak-balik mengambil minumandan snack buat kita berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minumandi meja, secara tidak sengaja aku mendapat kesempatan melihat kedalamdasternya yang menampilkan kedua payudaranya secara utuh karena Inatidak memakai BH lagi dibalik dasternya. Ina memang lebih cantik dariistriku, tubuhnya mungil dengan kulit yang putih dan rambut yang panjangtergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tapi karena tidak punya anaktubuhnya masih terlihat langsing dan ramping. Payudaranya yang kelihatanolehku, walaupun tidak terlalu besar tetapi tetap padat dan membulat.Melihat pemandangan begini terus-menerus aku mulai tidak bisa berpikirjernih lagi dan puncaknya tiba-tiba kusergap dan tindih Ina di sofasambil berusaha menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya.Ina kaget dan menjerit, "Yan, apa-apaan kamu ini!".Dengan sekuat tenaga dia mencoba berontak, menampar, mencakar danmenendang-nendang. Tapi perlawanannya membuat birahiku semakin tinggiapalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin tidak karuan dansemakin merangsang."Breett..", daster bagian atas kurobek ke bawah sehingga sekarang keduapayudaranya terpampang dengan jelas. Putingnya yang berwarna coklat tuaterlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.Ina terlihat shock dengan kekasaranku, perlawanannya mulai melemah dankedua tangannya berusaha menutup dadanya yang terbuka."Yan.., ingat, kamu itu adikku..", rintihnya memelas.Aku tidak mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster yang sudahrobek itu ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya yang sudah aku tidakingat lagi warnanya. Sekarang dengan jelas dapat kulihat vaginanya yangditumbuhi dengan bulu-bulu hitam yang terawat baik.
Setelah berhasil menelanjangi Ina, kulepaskan pegangan pada dia danberdiri di sampingnya sambil mulai melepaskan bajuku satu persatu dengantenang. Ina mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa sambil sebisamungkin mencoba menutupi badannya dengan kedua tangannya. Saat itupikiranku mulai jernih kembali menyadari apa yang telah kulakukan tapipada titik itu, aku merasa tidak bisa mundur lagi dan aku putuskan untukberlaku lebih halus.Setelah aku sendiri telanjang, kubopong tubuh mungil Ina ke kamarnya dankuletakkan dengan lembut di atas ranjang. Dengan halus kutepiskantangannya yang masih menutupi payudara dan vaginanya, kemudian aku mulaimenindih badannya. Ina tidak melawan. Ina memalingkan muka dengan mataterpejam dan berurai air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya.Gagal mencium bibirnya, aku teruskan menciumi telinga, leher dada danberhenti untuk mengulum puting dan meremas-remas payudara satunya lagi.Ina tidak bereaksi. Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah,perut dan vaginanya sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebihdahulu. Aku mulai dengan menjilati dan menghisap clitorisnya yang cukupkecil karena sudah disunat (sama dengan istriku). Ina mulai bereaksi.Setiap kuhisap clitorisnya Ina mulai mengangkat pantatnya mengikuti arahhisapan.
Kemudian dengan lidah, kucoba membuka labia minoranya dan memainkanlidahku pada bagian dalam liang senggamanya. Tangan Ina mulaimeremas-remas kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika vaginanya mulaibasah kumasukkan jari menggantikan lidahku yang kembali berpindah keputing payudaranya. Mula-mula hanya satu jari kemudian disusul dua jariyang bergerak keluar masuk liang senggamanya. Ina mulai berdesah danmemalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan. Sekitar dua atau tiga menitkemudian aku tarik tanganku dari vaginanya. Merasakan ini, Ina membukamatanya (yang selama ini selalu tertutup) dan menatapku dengan pandanganpenuh harap seakan ingin diberi sesuatu yang sangat berharga tapi tidakberani ngomong. Aku segera merubah posisi badanku untuk segeramenyetubuhinya. Melihat posisi 'tempur' seperti itu, pandangan matanyaberubah menjadi tenang dan kembali menutup matanya. Kuarahkan penisku kebibir vaginanya yang sudah berwarna merah matang dan sangat becek itu.Secara perlahan penisku masuk ke liang senggamanya dan Ina hanyamengigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Ina bergerak memegang sisa batangpenisku yang belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan."Yan, kita tidak boleh melakukan hal ini..", Kata Ina setengah berbisiksambil memandangku.Tapi waktu kulihat matanya, sama sekali tidak ada penolakkan bahkanlebih terlihat adanya birahi yang tertahan. Aku tahu dia berkata begituuntuk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan yang sekarang jadisangat diinginkannya."Tidak apa-apa 'Na, kita kan bukan saudara kandung, jadi ini bukanincest", Jawabku."Nikmati saja dan lupakan yang lainnya".Mendengar perkataanku itu, Ina melepaskan pegangannya pada penisku yangsekaligus aku tangkap sebagai instruksi untuk melanjutkan'perkosaannya'. Dalam 'posisi standard' itu aku mulai memompa Ina dengangerakan perlahan, setiap kali penisku masuk, aku ambil sisi liangsenggama yang berbeda sambil mengamati reaksinya. Dari eksperimen awalini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dindingdalam bagian atas yang kemudian menjadi titik sasaran penisku selanjutnya.
Strategi ini ternyata cukup efektif karena belum sampai dua menit Inasudah orgasme, tangannya yang asalnya hanya meremas-remas spreitiba-tiba berpindah ke pantatku. Ina dengan kedua tangannya berusahamenekan pantatku supaya penisku masuk semakin dalam, sedangkan diasendiri mengangkat dan menggoyangkan pantatnya untuk membantu semakinmembenamnya penisku itu. Untuk sementara kubiarkan dia mengambil alih."sshh.., aahh", rintihnya berulang-ulang setiap kali penisku terbenam.Setelah Ina mulai reda, inisiatif aku ambil kembali dengan merubahposisi badanku untuk style 'pumping flesh' untuk mulai memanaskankembali birahinya yang dilanjutkan dengan style 'stand hard' (kedua kakiIna dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya). Style inikuambil karena cocok dengan cewek yang bagian sensitifnya seperti Inadimana vagina Ina tertarik ke atas oleh gerakan penis yang cenderungvertikal. Ina mengalami dua kali orgasme dalam posisi ini.Ketika gerakan Ina semakin liar dan juga aku mulai merasa akan ejakulasiaku rubah stylenya lagi menjadi 'frogwalk' (kedua kaki Ina tetap rapatdan aku setengah berlutut/berjongkok). Dalam posisi ini setiap kali akutusukkan penisku, otomatis vagina sampai pantat Ina akan terangkatsedikit dari permukaan kasur menimbulkan sensasi yang luar biasa sampaipupil mata Ina hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkanerangan bukan rintihan lagi."Na, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?", Kataku sambil terusmemompa secara pelan tapi dalam."ddi dalam saja.., di dalam saja, aahh.., jangan pedulikan", Ina mejawabditengah erangan kenikmatannya."Aku keluar sekarraang..", teriakku.Aku tekan vaginanya keras-keras sampai terangkat sekitar 10 cm darikasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya yangmenyebabkan untuk sesaat aku lupa akan dunia."Jangan di cabut dulu Yan..", bisik Ina.Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Ina danaku pompa penisku pelan-pelan dengan menekan permukaan bawah vagina padawaktu ditarik. Dengan cara ini sebagian sperma yang tadi disemprotkanbisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Inamenjawabnya dengan hisapan-hisapan kecil pada penisku dari vaginanya"Yan, kenapa kamu lakukan ini ke Ina?", tanyanya sambil memeluk pinggangku."Kamu sendiri rasanya gimana?", aku balik bertanya."Mulanya kaget dan takut, tapi setelah kamu berubah memperlakukan Inadengan lembut tiba-tiba birahi Ina terpancing dan akhirnya turutmenikmati apa yang belum pernah Ina rasakan selama ini termasuk darisuami Ina", Jawabnya.
Kita kemudian mengobrol seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa dansebelum pulang kusetubuhi Ina sekali lagi, kali ini dengan sukarela.Sejak malam itu, aku 'memelihara' kakak iparku dengan memberinya nafkahlahir dan batin menggantikan suaminya yang sudah tidak mempedulikannyalagi. Ina tidak pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya danaku membalasnya dengan menjadikan 'pendamping tetap' setiap aku pergi keluar kota atau ke luar negeri.

# posted by corex @ 11:55 AM
*Kenangan Ebtanas* 
Pertama-tama aku mau memperkenalkan diri dulu. Namaku "Eot" (namapanggilan dari orangtua dan teman-teman). Aku sekarang berumur 24 tahundan sudah bekerja di salah satu perusahaan konsultan swasta di Jakarta.Cerita ini merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi beberapa tahunyang lalu (kira-kira bulan July tahun 1989), saat itu aku baru duduk dikelas 1 SMA di SMA Negeri 'XXX' di kota Bandung. Pada saat itu aku punyaseorang pacar yang sudah kupacari selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan,aku dan dia memang sudah pacaran semenjak di bangku SMP (pada saat ituaku dan dia sama-sama di SMP negeri-Bandung). Pacarku adalah adikkelasku pada saat itu.
"Poppy", ya Poppy adalah pacar pertamaku pada saat itu, Poppy merupakananak bungsu dari 5 bersaudara, kakaknya semua cowok. Poppy tinggal padasebuah keluarga yang serba berkecukupan, orang tuanya termasuk salahsatu orang terpandang di kota Bandung saat itu. Poppy memiliki wajahyang menurutku sangat imut-imut, dengan potongan body yang relatif kecil(163 cm, 45 kg), kulit putih bagai kapas tanpa cacat sedikitpun.Ditambah dengan penampilannya yang cuek tapi rapih, tentu saja diamembuatku semakin jatuh cinta. Satu hal yang membuatku tergila-gilapadanya adalah matanya yang bulat dihiasi dengan hidung kecil mancungdan bibir kecilnya yang berwarna merah muda tanpa lipstik dan selalubasah itu.
Aku dan dia berpacaran sudah cukup lama, selama berpacaran aku sangatmenghargai dia, pertama karena aku sangat mencintai dia, selain itu akupun melihat keberadaan keluarganya. Waktu berjalan tidak terasa 1 tahunlebih aku berpacaran dengannya tanpa ada masalah, bahkan aku dankeluarganya (ayah, ibu dan kakak-kakaknya) sudah benar-benar diterimaseperti layaknya anak sendiri, hal ini membuatku semakin yakin akangadis pilihanku ini. Dalam waktu yang sekian lama kegiatan pacaran kamihanya berkisar antara nonton di bioskop ataupun makan-makan di restoran,selama itu aku belum pernah mencium bibir merahnya, ataupun memeluknyawalaupun pada dasarnya aku memiliki hasrat untuk melakukan hal itu,namun hasrat tersebut kalah oleh rasa cinta dan sayangku padanya,sehingga aku tidak ingin sedikitpun melukai hatinya. Paling-paling ciumkening sebelum pulang apel yang selalu kulakukan padanya selama kurunwaktu tersebut sebagai penghias cinta kami berdua.
Singkat cerita, pada saat aku duduk di kelas 1 SMA, dimana Poppy yangadik kelasku itu duduk di kelas 3 SMP akan menghadapi EBTANAS untukmasuk ke SMA, Aku yang sudah benar-benar dipercaya oleh keluarganya,mendapatkan perintah dari kedua orangtuanya untuk memberikan bimbingankepada Poppy selama masa EBTANAS tersebut. Aku yang jelas-jelas sangatmenyayanginya sudah barang tentu tidak akan mengecewakan dirinya apalagikedua orang tuanya. Karena aku sudah mendapatkan mandat untuk memberikanbimbingan selama masa EBTANAS itu, maka aku pun dianjurkan untukmenginap di rumahnya selama kurang lebih 2 malam. Pada mulanya aku raguuntuk menginap di rumahnya, karena memang aku belum pernah menginap dirumah teman cewek, apalagi di rumah cewekku sendiri seperti ini. Namunberkat dorongan kedua orangtua serta kakak-kakaknya yang terus memaksa,akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menginap selama 2 malam dirumah kekasihku.
Malam Senin (malam pertama aku menginap). Aku datang ke rumahnya(kira-kira pkl 18.30 WIB)menggunakan sepeda motorku, sesampainya dirumahnya, aku memencet bel, tak lama kemudian Poppy muncul denganberlari-lari kecil, "Eh, Kaka, kok jam segini baru dateng sih, Poppysudah nungguin dari tadi tau, katanya mau dari siang", ujar Poppy sambilmembukakan pintu garasi rumahnya. (Oh iya aku lupa menjelaskan padapembaca bahwa selama berpacaran Poppy selalu memanggilku denganpanggilan "Kaka"). Aku pun menuntun sepeda motorku masuk dalam garasirumahnya.
"Ayo, Kak, buruan masuk, itu tasnya taruh saja di kamarnya Mas Dody",ujar Poppy sambil menarik lenganku menuju kamar kakaknya (Mas Dody) yangkebetulan sedang pergi ke Pangandaran bersama teman-temannya. "N'tardulu dong Pop, aku kan belon ketemu Ibu dan Bapak, masa sih langsungmain masuk kamar saja, entar disangka nggak sopan lagi", ujarku."Oh, iya lupa", ujar Poppy sambil tersenyum kecil dan mencubit lenganku,yang membuatku semakin gemes kepingin mencium bibir mungilnya itu. Taksadar aku pun terbengong-bengong melihat wajah imutnya sambil pikirankumembayangkan aku sedang mencium bibir sambil berpelukan dengannya. "Eh,kok malah bengong bukannya masuk, hayo lagi mikirin siapa yaa?" ujarPoppy. Aku pun tersentak kaget dan tersadar dari lamunanku. "Eh, nggakkok, ujarku sambil buru-buru membuang pikiran kotorku, takut ketahuanlagi mikirin yang jorok-jorok.
Tak lama kemudian muncul Ibunya, "Eh, Nak Eot, kapan dateng kok nggakkedengeran", ujar ibunya sambil mempersilakan aku masuk ke dalam ruangkeluarganya. "Sudah, dari tadi bu", sahutku pelan sambil berjalan menujuke dalam. "Nanti, Nak Eot tidur saja di kamarnya Dody, kebetulan Dodysedang keluar kota jadi kamarnya kosong", ujar ibunya."Iya Bu", sahutku."Poppy, ayo ajak masnya makan malem dulu, sebelum belajar!" ujar ibunyasambil mengajak kami ke ruang makan untuk makan malam. "Kak, ayo makandulu, nanti masuk angin lho", ajak Poppy sambil menuntun tanganku menujuruang makan. Kami pun makan malam bersama bertiga. Ternyata ayahnyasedang dinas keluar kota sedangkan kakak-kakaknya pergi semua keluardengan alasan malas untuk mengajarkan adiknya yang sedang menghadapiEBTANAS ini. "Untung ada Nak Eot, kalau nggak bisa gawat nih, manakakak-kakaknya Poppy pada ngabur lagi, wah maaf ya Nak Eot, jadimerepotkan nih", ujar ibunya. "Oh, nggak apa-apa kok Bu, kan kalau PoppyNEM-nya bagus, saya juga yang senang Bu", balasku sambil melirik ke arahPoppy yang tersenyum-senyum manja. Setelah makan malam, aku dan Poppyditinggal oleh ibunya, masuk ke dalam kamar.
Aku pun mulai mengajari Poppy di ruangan komputer, malam itu Poppymenggunakan baju kaos tipis berwarna putih, dipadu dengan rok mini corakkotak-kotak merah-hitam sehingga tampak kontras sekali di kulit pahanyayang putih bersih. Selama mengajarinya mataku kadang terpaku kepadapahanya yang putih mulus, ingin rasanya aku mengelusnya, merasakankehangatan pahanya, namun apakah hal itu mungkin, sedangkan selama iniaku belum pernah melakukan hal tersebut. Tak terasa aku menjaditerangsang, dan kemaluanku pun menjadi tegang, namun sebelum menjadisemakin parah segera kubuang pikiran itu jauh-jauh.
Soal demi soal dikerjakan, waktu pun tidak terasa sudah menunjukkanpukul 22.30 (setengah sebelas malam)."Kak, sudah dulu ah, istirahat dulu sebentar, Poppy kan capek", ujarPoppy sambil menggelendot manja."Eh, Poppy masak sih baru sebentar saja sudah capek, nanti NEM-nya jeleklho", sahutku."Ya, tapi kan kalau sudah capek dipaksain terus belajar juga malah nggakbagus", jawab Poppy."Dasar kamu pinter ngomong, ya sudah kalau gitu kukasih kamu 1 soallagi, nanti kalau bisa ngerjain dan jawabannya benar, kamu aku kasihhadiah dan boleh istirahat", ujarku lagi."Asyiiikkk..., benar ya, tapi hadiahnya apa?" tanya Poppy padaku."Ya, sudah sekarang kerjain saja dulu nanti hadiahnya surprise",jawabku. Poppy pun mengerjakan soal, sementara aku bingung memikirkanhadiah apa yang bakal diberikan padanya sedangkan tadinya aku hanyaiseng saja, dan benar-benar tidak memiliki sesuatu yang akan diberikanpadanya. Akhirnya tidak lama kemudian Poppy pun menyelesaikan soal,kuperiksa dan ternyata jawabannya tidak ada yang salah."Gimana Pak Guru, apa jawabannya benar", tanya Poppy,"Aku pun menganggukkan kepalaku sambil tersenyum padanya."Nah, sekarang mana janjinya, katanya mau ngasih hadiah", tanya Poppy."Oh iya ya, naah sekarang pejamkan dulu mata kamu baru nanti saya kasihhadiahnya", ujarku pelan. Poppy pun menurut memejamkan kedua belah matanya."Sudah belum", ujar Poppy mendesakku."Sebentar, dulu dong", jawabku. Aku pun memandangi wajah imutnya, bibirmungilnya, hidung mancungnya, semua terasa sangat indah malam itu, akupun memang sudah berniat untuk memberanikan diri akan memberikan sesuatuyang belum pernah kuberikan padanya malam ini. Aku pun mendekatkanwajahku padanya, pelan-pelan kudekati bibir mungilnya, dengan perasaandag-dig-dug tak menentu akhirnya kuberanikan diriku dan kedua bibir kamipun bersentuhan, bibirnya terasa sangat lembut dan hangat. Aku takut diaakan marah atau menganggapku kurang ajar. Sesaat kemudian dia membukakedua matanya, kupandang wajahnya takut-takut, tak lama kemudian ia puntersenyum padaku, "Ma kasih ya Kak", ujarnya sambil tersenyum manja,manis sekali. Ingin rasanya aku berteriak karena girang, ternyata bisajuga aku merasakan bibirnya walaupun hanya sekejap, batinku dalam hati."Sudah, ya hanya segitu saja hadiahnya Kak", ujar Poppy lagi. "Ya, kalaupengen hadiah lagi juga nggak apa-apa", harapku ragu-ragu.
Tak disangka Poppy pun memelukku sambil mencium bibirku, akhirnya kamipun saling berciuman sambil berpelukkan, nafsuku semakin tinggi setelahkedua buah dadanya menyentuh dadaku, terasa kenyal dan hangat, inginrasanya aku memegangnya. Kami terus berciuman, sementara tanganku sudahmulai berani mengelus-elus punggung, kemudian pelan-pelan turun ke arahpantat, gila benar... pantatnya empuk benar, sudah gitu hangat lagi,tapi aku tidak berani berlama-lama di area tersebut, aku pun kembalimemindahkan tanganku di punggungnya, kembali mengelus-elus punggungnyasambil lidah kami berdua saling berpagutan di dalam, benar-benar malamspesial yang sangat indah, batinku dalam hati."Pop, apa Ibu sudah tidur, n'tar ketauan lagi", kataku sambil melirik kearah kamar sang Ibu, "Nggak apa-apa kok, kalau Ibu biasanya jam sepuluhsudah tidur", jawab Poppy menenangkanku. Jawaban Poppy benar-benarmembuatku tenang, tapi juga membuat birahiku semakin memuncak, akhirnyakami pun kembali berciuman, aku pun memberanikan diri untuk memegangbuah dadanya, mula-mula kuelus dari belakang, kemudian menjalar darisamping, terasa kenyal, ternyata bagian bawah buah dadanya sudahterpegang olehku, dia diam saja, sementara aku semakin lupa diri, danakhirnya kuberanikan diri untuk memegang buah dadanya dari depan,ternyata dia diam saja bahkan kudengar nafasnya semakin tidak beraturan,rupanya dia terangsang juga, pikirku dalam hati. "Pop, boleh nggaktangan kakak masuk ke dalam?" tanyaku takut-takut, Poppy pun menganggukpelan malu-malu, akhirnya kumasukkan tanganku dari bawah baju kaosnya,pertama tersentuh kulit perutnya yang halus dan hangat, membuatpikiranku melayang kemana-mana, semakin ke atas akhirnya ketemu jugagunung kembar yang selama ini hanya bisa kubayangkan tanpa bisa kupegang.
Buah dada Poppy masih sangat kencang dan bulat, kuelus buah dadanya dariluar bra yang digunakannya, baru kemudian kuberanikan untuk menyusupkanjemariku ke dalam bra, halus dan hangat terasa jemari tangankumenyentuhnya, Poppy pun melenguh, nafasnya semakin tak beraturan ketikatanganku menyentuh buah dadanya bagian dalam. Bra yang kurasakan sangatmengganggu tersebut akhirnya dengan jerih payah berhasil kubuka, (karenakebetulan kancing pengaitnya ada di depan, jadi mudah untukmenemukannya). Setelah terbuka, tanganku menjadi semakin leluasamenggerayangi kedua buah dada Poppy. Kuelus-elus buah dada Poppy memutarkeliling bagian luarnya, baru kemudian kutemukan pentil susunya yangmasih sangat kecil mungil, dan kubayangkan pasti warnanya merah muda.Kupelintir-pelintir pentil susunya, membuat Poppy semakin menggelinjang"aahh, kakk, Poppy... gelii... banget nih", ujar Poppy, aku tak bisamenjawab, karena nafsu birahiku semakin memuncak, aku hanya dapattersenyum sambil mengecup keningnya. Tanganku pun semakin beranibergerilya, sementara tangan kananku sibuk menggerayangi buah dada, makatangan kiriku mulai berani untuk mengelus-elus paha putihnya, busyeet!teman-teman, pahanya halus banget, kuelus dari lutut, kemudian naiksedikit sampai kira-kira 20 cm dari lutut, kemudian turun lagi, inginrasanya elusan tanganku ini kuteruskan ke atas, namun keberanian dirikubelum penuh.
Bibir kami terus berpagutan, sambil terus berpelukan. Nafsu birahikusemakin bergejolak, ingin rasanya aku membuka kaos putihnya, sehinggaaku dapat melihat sekaligus menciumi buah dadanya, namun kutakut kalauPoppy nantinya malah tersinggung mengingat hal ini baru pertama kalikami lakukan."Sudah diijinkan memegang sampai ke dalam saja sudah untung", batinkudalam hati.Aku sadar bahwa segala sesuatu itu harus melalui proses, demikian jugadengan "hal ini" walaupun permasalahannya berkisar hubungan antara 2insan manusia yang berlainan jenis, namun kuyakin apabila dilakukanmelalui tahapan-tahapan tertentu, maka hasilnya pun akan lebihmemuaskan. Kuurungkan niatku, walaupun kemaluanku sudah semakinmenegang, menuntut sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman danberpelukan, walaupun sudah dihiasi dengan elusan-elusan ringan ke arah 2bukit kembarnya.
Sedang asyik-asyiknya kami berciuman, tiba-tiba kudengar suara deritpintu yang terbuka, aku dan Poppy tersentak kaget, Poppy pun membenahirambutnya yang sedikit acak-acakan sekaligus memasang kait tali BH-nyayang sempat kubuka tadi."Siapa Pop?" bisikku padanya. Poppy menggelengkan kepalanya, "MungkinIbu", balasnya setengah berbisik. Kami pun langsung bergegas untukkembali pada posisi semula. Aku mengambil buku sambil berusaha untukmengatur jalan nafasku yang masih ngos-ngosan tak karuan."Waahh, sialan, lagi nikmat-enaknya, adaa saja gangguan", batinku dalamhati.
Ternyata dugaan Poppy benar, Ibu keluar dari kamar, terbangun karenahaus sekalian menengok anaknya yang sedang belajar."Waahh... rajinnya anakku, jam segini masih belajar juga", ujar Ibusambil membelai rambut Poppy."Gimana Nak Eot, apa Poppy sudah siap untuk ujian besok?" tanya Ibu padaku."Lumayan Bu, soal-soal yang kuberikan tadi hampir semuanya terjawabbenar", jawabku sambil melirik ke arah Poppy."Ya sudah, dilanjutkan belajarnya, Ibu mau bikin susu dulu buat kalian,biar nggak masuk angin", sahut Ibu lagi."Nggak usah Bu, jadi ngerepotin saja nih", kataku berbasa-basi.
Tidak lama kemudian Ibu kembali membawa 2 gelas susu coklat panas plusroti buat kita berdua."Makasih ya Bu", ujarku pada Ibu, Ibu tersenyum kecil sambilmempersilakan kami untuk meminum susu buatannya."Poppy, kalau sudah beres lekas tidur, biar besok nggak kesianganbangun, Ibu sudah ngantuk, mau tidur duluan."
Kami pun kembali ditinggal berdua di ruang tersebut. "Wah, hampiiirrrsaja ketauan, untung pintunya kedengeran", ujar Poppy sambil mengelus dada."Ya... yaa... yaa, kalau nggak bisa gawat nih, disuruh belajar PMP kokmalah belajar ciuman", sahutku sambil tertawa lega ibarat maling lolosyang lolos dari sergapan Satpam."Uu... uuuhh... dasar guru ngeres, bukannya ngasih ilmu buat besok kokmalah 'nyonyo' susu batur" (mainin payudara orang----) dalam bahasaSunda)", kata Poppy sambil mencibirkan bibirnya."Tapi... suka kan!" kataku sambil memeluk Poppy dari belakang."Naahh, sekarang mau lanjutin belajar PMP atau lanjutin belajardokter-dokteran?" tanyaku pada Poppy.
Poppy tidak menjawab, ia melepaskan pelukanku dan berpindah untukberbaring di sofa panjang yang kebetulan terdapat di pojok ruangan. Akupun berjalan menghampirinya."Sakit apa Mbak?" tanyaku sambil pura-pura memegang keningnya bakseorang dokter yang menanyai pasiennya."Ini Dok, saya dari tadi sesak nafas, kalau nafas berat banget kayak adasesuatu yang ngeganjel di mulut", jawab Poppy sambil tersenyum manja kearahku."O... ok, kalau begitu coba Mbak buka mulutnya", sahutku lagi. Poppy punkemudian membuka mulutnya, laganya seorang dokter, aku pun pura-puramensenter mulutnya bagian dalam, terlihat barisan gigi putih rapihmenghiasi bagian dalam bibir mungilnya. Melihat posisi Poppy yangberbaring pasrah di sofa, timbul lagi hasratku untuk kembali melanjutkanpermainan kami yang sempat terpotong tadi.
"Waduuuhh... ini sih harus diberi nafas bantuan", kataku lagi. Aku punkembali mendekatkan bibirku pada bibirnya, kita pun segera berciumankembali dengan gemasnya, lidahku dan lidahnya saling berkaitan,kadangkala lidahku digigitnya lembut, mungkin saking gemasnya. Tangankupun tidak mau tinggal diam, segera ikut bergerilya di sekitar permukaanbuah dadanya. Walaupun masih tertutup baju dan BH, namun aku dapatmerasakan bahwa puting susu Poppy sudah mulai mengeras pertanda bahwa iamulai terangsang, hal itu juga tampak dari jalan nafasnya yang sangattidak beraturan. Kemaluanku sudah sangat menegang, nafsu birahiku kianmemuncak, keringat mengucur deras, otakku sudah benar-benar dipenuhioleh pikiran ngeres meminta sesuatu yang lebih. Aku pun berfikir kerasagar dapat melihat buah dadanya, memegang dan mengelusnya langsung tanpaada baju dan BH yang menghalangi.
Sesaat kuhentikan ciumanku di bibirnya. Kupandangi wajah imutnya sambilbertanya, "Gimana Mbak, apa sudah baikan sesak nafasnya?""Belum Dok, malahan sekarang tambah parah, gimana dong dok?"Aku pun pura-pura berfikir sambil mengerutkan dahiku."Ooo... Gitu", kataku sambil mengangguk-anggukan kepalaku.Aku mengambil sendok yang kebetulan ada di atas meja."Buat apa itu Dok?" tanya Poppy."Yaa.. buat periksa dong", sahutku."Naahh... sekarang aku mau periksa detak jantung Mbak, tolong bajunyaagak dikeataskan", pintaku padanya takut-takut."Baik Pak Dokter", jawab Poppy sambil mulai mengangkat kaos putihnyasetengah badan. Tampaklah perut putihnya dan sebagian buah dada bagianbawah yang masih terbungkus BH warna putih gading. Aku kaget setengahgembira melihat pemandangan tersebut, aku tidak menyangka kalau ternyatamalam ini, malam EBTANAS aku dapat memegang sekaligus melihat buah dadaPoppy, pacarku tercinta.
"Maaf ya Mbak", sahutku sambil pura-pura memulai memeriksa pasiennya.Pertama-tama dengan menggunakan punggung sendok yang cembung, akumenekan lembut perut Poppy kemudian kugeser sedikit demi sedikit naik kearah buah dada Poppy."Waahh... maaf nih Mbak, sepertinya BH-nya harus dikendorkan habismenghalangi jalannya pemeriksaan", sahutku ragu-ragu. Tak disangka Poppypun melepas tali BH-nya (kaitannya ada di depan sehingga sangat mudahuntuk membukanya). Dadaku bergemuruh keras, bagai akan meledak melihatpemandangan yang demikian menakjubkan, dimana di depan mataku sepasangbuah dada indah, putih nan cantik belum pernah terjamah sedikitpunmenantang, menanti belaian tangan-tangan kasarku. Untuk pertama kalinyakumelihat langsung buah dada wanita seumur hidupku, buah dada yangberdiri tegak, bulat dihiasi dengan puting kecilnya yang menonjolberwarna coklat kemerahan. Untuk beberapa saat lamanya aku duduktertegun, tak bergerak, diam membisu, pandanganku sedetikpun tidakterlepas dari 2 buah dada indah itu. Seluruh tubuhku seakan lemas takbertenaga, otakku berputar cepat, bingung memikirkan tindakan apa yangakan kulakukan selanjutnya.
"Kaak... kak, kok bengong sih", tanya Poppy menyadarkan aku dari lamunanku."Buah dada kamu bagus sekali", ujarku refleks. Poppy pun tersenyum malusambil menutupi buah dadanya dengan kedua belah tangannya. Kusibakkandua tangannya dari gumpalan daging indah itu, dengan lembut kuelus buahdada itu dari bawah kemudian berputar ke atas mengelilingi putingsusunya yang semakin menonjol itu. Poppy menggelinjang kegelian, tampakseluruh badannya bergoyang menahan rasa geli dan nikmat yang takterkirakan itu. Mungkin baru sekarang ini buah dadanya dipermainkan olehseorang cowok. Nafasnya seakan-akan berhenti, terutama ketika jemarikuperlahan mengelus dan memutar mempermainkan puting susunya."Kaak...., Poppy geliii... banget", ujar Poppy sambil mendekap tangankuke arah buah dadanya.
Kukecup keningnya untuk menenangkan hatinya, kucium bibir mungilnya,kemudian kuciumi leher indahnya, kutelusuri, kujilati lehernya sampaibersih. Ciumanku perlahan beranjak turun ke bawah, kucium buah dadanyasatu persatu, baru kemudian kutelusuri buah dada indah itu dari atasmemutar ke bawah, hingga akhirnya sampai ke puting susunya yang sudahsangat keras itu. Kujilat puting susunya perlahan, baru kemudiankuhisap-hisap bagai anak kecil menyusu ke ibunya. Poppy memejamkan keduamatanya, seluruh badan Poppy tampak mengejang terutama ketika lidahkumengenai puting susunya.
Nafsuku sudah tak tertahankan lagi, ingin rasanya aku menelanjanginya,dan kemudian menidurinya, "Tapi itu mustahil", batinku dalam hati.Sementara mulutku bermain di buah dadanya, tanganku tak mau kalah, mulaimeraba-raba paha putih Poppy dari bawah bergerak perlahan ke atas,kusingkap rok mini yang dipakainya sedikit ke atas, paha indah itusemakin tampak jelas dihiasi bulu-bulu halus, tanganku terus bergerak keatas hampir sampai ke pangkal pahanya, terasa semakin hangat dan halus.Tiba-tiba tangan Poppy memegang tanganku yang tinggal beberapacentimeter saja mengenai kemaluannya.
"Ka.... ka..., nanti saja ya", ujar Poppy."Disini nggak aman", ujar Poppy lagi.Aku pun menurunkan tanganku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul01.30 malam. Di sini aku dihadapkan pada 2 pilihan, di satu sisi akumerasa bahwa kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, namun di sisi lainaku merasa kasihan pada Poppy yang besok pagi harus mengikuti ujianEBTANAS. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri permainan ini. "Toh besokaku masih menginap di rumah ini, sudah barang tentu kesempatan pun akanlebih banyak", pikirku dalam hati. Akhirnya Poppy pun kusuruh untukberistirahat, aku pun beranjak ke kamar Mas Doddy, namun sampai subuhaku tak dapat tidur, pikiranku terus melayang pada kejadian yang barusaja terjadi antara kami berdua, "Besok aku harus mendapatkan yanglebih", batinku dalam hati.
TAMAT

# posted by corex @ 10:36 AM
 
++ previous item ++
++ archieve ++

  • October 2006